Kendalikan Marah


Marah: Kekacauan Pikiran
       Nabi Saw. melukiskan bahwa jika seseorang marah maka jantungnya dipenuhi darah dan aliran darah dalam tubuh menjadi sedemikian deras. Hal ini dapat memerahkan permukaan tubuh khususnya wajah dan menyebabkan seorang yang dalam keadaan marah merasakan panas: “Ketahuilah sesungguhnya marah itu adalah bara dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian lihat matanya yang merah dan urat lehernya yang tegang.” ( HR Tirmidzi )
.      Dalam kondisi marah, karena emosi sedemikian meninggi, pikiran menjadi tertutup ( ighlaq ), tidak mampu berpikir jernih. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. menesahati para sahabat untuk tidak mengeluarkan vonis atau keputusan pada saat marah. (HR Al-Syaikhan, Abu Dawud, Tirmidzi dan Al-Nasai ). Rasulullah Saw. mengatakan bahwa talak seorang suami tidak sah jika ia mengucapkan dalam kondisi yang sangat marah: “Tidak ada talak dan pembebasan budak dalam kondisi yang sangat marah.” (HR Abu Dawud, Ahmad dan Ibn Majah ).
       Kondisi psikologis seperti ini tidak terjadi pada emosi marah saja, tetapi mencakup semua perasaan dan emosi yang berlebihan. Cinta misalnya, kadang menghambat pikiran jernih. Rasulullah Saw. bersabda: “ Cinta terhadap sesuatu dapat membatalkan dan menulikan.” ( HR Abu Dawud dan Ahmad ).
       Kemampuan mengendalikan kemarahan berarti selamat dari murka Allah. Abdullah bin ‘Amr pernah bertanya kepada Rasulullah Saw: “ Apa yang dapat menyelamatkan diriku dari murka Allah?” Jawab beliau: Jangan marah.” ( HR Thabrany dan Ahmad ). Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa kemampuan mengendalikan kemarahan sebagai keperkasaan sejati. Dalam sebuah forum beliau Saw. pernah bertanya kepada sahabatnya: “ Apa pendapat kalian, siapa orang yang paling kuat diantara kalian?” Mereka menjawab: “ Yaitu orang yang tak mampu lagi dilawan oleh laki-laki ( saking kuatnya ).” Beliau bersabda:” Bukan, sesungguhnya dia adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah.” ( HR Muslim dan Abu Dawud ).
                                                                                      Halaman: 59-60


Yang Dilakukan Saat Marah
       Bagaimana Rasulullah mengajarkan para sahabat untuk mengendalikan rasa marah? Abu Dzar berkat bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika salah seorang kalian marah dan pada saat itu sedang dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Karena itu bisa meredakan marahnya. Jika tidak, hendaklah ia berbaring.” (HR Abu Dawud dan Ahmad ). Dengan duduk atau berbaring pada saat marah dapat membuat badan menjadi rileks dan akhirnya membantu meredakan dan melawan ketegangan yang ditimbulkan oleh perasaan marah, kemudian secara bertahap menghilangkannya secara tuntas.
      Selain itu duduk dan berbaring dapat melawan kecendrungan permusuhan pada manusia dan hal itu membantu dalam menghadapi situasi yang memicu marah dengan penuh ketenangan dan hikmah tanpa ceroboh dan terburu-buru. Wudhu juga termasuk metode yang disarankan Rasulullah Saw. “Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan sesungguhnya setan diciptakan dari api. Dan api itu hanya dapat padam dengan air. Jadi, jika salah seorang kalian marah, berwhudulah.” ( HR Abu Dawud ).
                                                                                    Halaman: 61-62


                                         Dikutip dari:
                                         Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi
                                        Diterjemahkan dari Al-Hadits Al-Nabawi
                                         Wa ‘Ilmu Al-Nats
                                        Karya M. Utsman Najati
                                        Penerbit Hikmah, Jakarta, 2006
Bagi-in artikel ini :

2 komentar:

Terbaru